Bogor – Kampung Bojong di Kecamatan Cimahpar, Kabupaten Bogor, telah lama dikenal sebagai Kampung Ketupat. Hal ini karena sebagian besar penduduk desa ini adalah produsen ketupat. Salah satunya adalah Jamhuri, yang akrab dipanggil Ajam.
Ketika detikcom mencari keberadaan Jamhuri pada Rabu (19/2) lalu, warga setempat awalnya tidak mengenal namanya. Namun, ketika disebutkan kata ‘ketupat’, barulah mereka paham. Bisa dibilang, tidak ada yang tidak mengenal sosok Ajam di kampung ini.
“Di Bogor, kebanyakan penjual ketupat berasal dari Cimahpar. Bahkan, penjual di Citeureup dan Cibinong juga masih dari sini. Makanya, kampung ini pernah masuk TV sebagai kampung ketupat,” ujar Jamhuri saat berbincang dengan detikcom di teras rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bersama istrinya, Siti Latifah, Jamhuri memulai usaha ketupat pada tahun 2010. Saat itu, sudah banyak warga senior yang memproduksi ketupat. Latifah sendiri adalah salah satu pekerja yang menganyam cangkang ketupat belasan tahun lalu.
“Sekarang sudah 15 tahun menjalani usaha ketupat. Dulu saya hanya bekerja untuk orang lain, membuat cangkang ketupat. Kemudian ingin membuka usaha sendiri,” tambah Latifah.
Jamhuri dan Latifah memulai dengan langkah kecil. Mereka memberanikan diri meminjam modal dari orangtua. Dengan modal awal Rp 300 ribu pada tahun 2010, mereka mengolah 5-10 liter beras menjadi kurang dari 100 biji ketupat.
Usaha ketupat ini dimulai berdua, tetapi kini Latifah yang mengelola sepenuhnya. Jamhuri memilih untuk menjalankan bisnis lain, termasuk menjual motor dan beternak kambing.
Rutinitas Latifah setiap hari cukup padat. Dari pukul 03.00 hingga 10.00, ia dan para pekerja memasukkan beras ke dalam ratusan cangkang ketupat, lalu merebusnya dalam dua hingga tiga dandang raksasa. Sekitar 7-10 orang membantunya.
Rebusan ketupat biasanya selesai sekitar pukul 16.00. Setelah diangkat dari dandang, ketupat diantar ke pasar-pasar sekitar pukul 22.00. Kegiatan ini berulang di subuh hari. Pada akhir pekan, kesibukan meningkat karena pesanan ketupat meningkat.
“Setiap hari kami membuat 2.000 ketupat. Saat malam Sabtu atau Minggu, bisa mencapai 3.000. Kebanyakan pembeli adalah penjual ketoprak, penjual sate, dan katering. Vila-vila juga memesan karena ramai pengunjung pada akhir pekan,” jelas Latifah.
Pinjaman dari BRI
Setelah menjalani usaha ketupat selama sekitar 5 tahun, Latifah dan Jamhuri mengajukan pinjaman ke bank pada tahun 2015, salah satunya ke BRI. Kebetulan, tidak jauh dari rumah mereka, terdapat BRI Kantor Unit Cimahpar.
“Kami butuh modal, jadi kami mengajukan. Kami tahu dari bank yang dekat. Datang ke bank untuk membuka tabungan, dan ada tawaran untuk modal usaha, jadi kami ikut,” kata Latifah.
Ia mengakui bahwa prosesnya cukup mudah. Terlebih lagi, usaha ketupat mereka sudah terlihat. Pinjaman pertama yang disetujui sebesar Rp 100 juta. Dari situ, mereka dapat mengembangkan usaha ketupat dengan pesat, dari produksi awal 100 biji menjadi minimal 2.000 biji. Pada hari biasa, omzet yang diperoleh berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
Selain menjual ketupat jadi, mereka juga menjual janur. Satu ikat janur berisi 1.000 lembar daun, dengan panjang lebih dari 1 meter.
“Orang-orang di sini menjual ketupat. Mereka membeli janur dari saya,” jelas Latifah sambil menunjukkan satu ikat besar janur.
Kebutuhan menjelang Lebaran biasanya meningkat. Latifah memperkirakan harga beras akan melonjak. Oleh karena itu, mereka berencana mengajukan pinjaman lagi untuk menghadapi Lebaran. Saat ini, mereka telah melakukan top-up tiga kali, dengan total Rp 250 juta pada tahun 2024.
“Kami ingin usaha baru, yaitu ketupat doclang (ketupat dengan bumbu kacang), tetapi belum ada modal. Belum bisa dimulai. Harus bikin gerobaknya dulu. Sudah ada yang mau jual,” tambah Latifah.
Mantri BRI Unit Cimahpar, Koko Priono, bertanggung jawab bagi Jamhuri dan sejumlah perajin ketupat lainnya di Kampung Bojong. Melalui Jamhuri, Koko dapat lebih mudah menjangkau para produsen ketupat yang saling mengenal di daerah tersebut.
“Klaster Ketupat ini dimulai karena saya melihat dia (Jamhuri) sebagai penyuplai daun kelapa dan mempekerjakan orang-orang sekitar. Banyak pengusaha ketupat yang mengambil janur dari Pak Jamhuri. Kami melakukan pendekatan agar semua perajin ketupat bisa ditangani oleh BRI,” ungkap Koko kepada detikcom pada Jumat (28/2/2025).
Setidaknya ada delapan orang yang tergabung dalam kelompok usaha Klasterku Hidupku yang dibina oleh BRI Unit Cimahpar. Menurut Koko, Jamhuri sendiri sudah termasuk UMKM yang naik kelas, namun masih banyak perajin lain yang belum menjadi nasabah BRI. Potensi pengembangan usaha di kampung ketupat ini dinilai masih sangat besar.
“Di sini ada potensi besar. Nasabah yang membutuhkan modal usaha dapat kami bantu,” lanjut Koko.
Sementara itu, Micro Business Area Head BRI Jakarta Regional Office (RO) 2, Setyo Agung Yulianto, menjelaskan bahwa pengusaha dalam Klasterku Hidupku tidak hanya mendapatkan bantuan modal, tetapi juga pemberdayaan dan edukasi.
“Misalnya, ada klaster perajin ketupat, apa saja kendala yang dihadapi? Kami juga melibatkan pihak-pihak yang peduli. Sehingga, kami membantu para pelaku klaster mengatasi masalah yang ada,” jelas Setyo saat dihubungi detikcom pada Rabu (26/2/2025).
Menurut Setyo, klaster ketupat di Kampung Bojong adalah contoh unik dari nasabah Klasterku Hidupku di wilayah Bogor. Setiap wilayah memiliki ciri khas, seperti Cimahpar yang terkenal dengan ketupatnya. BRI berkomitmen untuk memberdayakan ciri khas tersebut agar lebih dikenal luas.
“Misalnya, dari sisi kuliner, apa yang menjadi ciri khas wilayahnya. Mereka sangat semangat berwirausaha, sehingga kami juga bersemangat untuk menyatukan mereka agar saling mendukung,” pungkasnya.
Penulis : Yovela
Editor : Yovela
Sumber Berita : https://finance.detik.com